Senin, 23 April 2012

Proposal Pelaksanaan Kunjungan Rumah Oleh Guru BK



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Memasuki era pasar bebas segenap individu dihadapkan kepada berbagai harapan dan kesempatan untuk mencapai kemajuan di masa yang akan datang. Di sisi lain tantangan dan tuntutan hidup juga  semakin kompleks yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan individu dan kelompok dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dalam hal ini Rochman Natawidjaja (1967:7) berpendapat bahwa kehidupan moderen menimbulkan berbagai  harapan kemajuan dan juga menimbulkan permasalahan yang sangat rumit  bagi individu dalam memenuhi kebutuhan pada kehidupan yang moderen.
Dalam kemajuan tersebut terutama dalam bidang ilmu pengetahuan  dan teknologi (IPTEK) mengakibatkan munculnya berbagai kebutuhan pada individu.  Jika individu tersebut dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik maka akan membawa kepuasaan dalam dirinya begitu juga sebaliknya.
Siswa di sekolah juga tidak terlepas dari persoalan dan permasalahan akibat tuntutan zaman yang semakin kompleks. Permasalahan mereka alami di sekolah seringkali tidak terelakan, karena sumber-sumber bukan hanya berasal dari sekolah saja tetapi juga dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal.
1
 

1
Untuk menghadapi persoalan tersebut maka diperlukan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.  Kegiatan bimbingan dan konseling diwujudkan dalam bentuk pelayanan konseling  di sekolah yang  merupakan usaha membantu peserta didik dalam mengembangkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir agar terhindar dari permasalahan yang mengakibatkan siswa mengalami kehidupan efektif sehari-hari terganggu.
Menurut   Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:4) yang menyatakan bahwa  pelayanan konseling merupakan suatu bentuk bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun  kelompok dan perkembangan  secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sesuai dengan  SK Mendikbud No.025/0/1995 tentang pelayanan BK di sekolah dapat dilaksanakan melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Jenis layanan bimbingan dan konseling yaitu layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan penguasaan kontens, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok, layanan konsultasi, layanan mediasi. Sementara itu untuk mendukung terlaksananya berbagai jenis layanan BK tersebut diperlukan sejumlah kegiatan pendukung, diantaranya aplikasi instrurmentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, tampilan kepustakaan, dan alih tangan kasus.
Menurut Prayitno dan Erman Anti (1999:315) menyatakan bahwa selain komunikasi verbal, kegiatan pendukung juga diperlukan untuk memperoleh berbagai data, keterangan dan informasi, terutama tentang klien dan lingkungannya. Salah satu bentuk kegiatan yang  mendukung layanan BK tersebut adalah kunjungan rumah atau Home Visit”. Yusuf Gunawan (1992:237) menyatakan bahwa perlunya dilaksanakan kunjungan rumah, adalah  sebagai berikut; (1) jika permasalahan yang dihadapi siswa ada sangkut pautnya dengan masalah keluarga, (2) keluarga sebagai salah satu sumber data yang dapat dipercaya tentang keadaan siswa, (3) dalam kegiatan bimbingan diperlukan kerjasama antara guru BK dengan orang tua, (4) faktor situasi keluarga memegang peranan penting terhadap perkembangan dan kesejahteraan anak.
Selain itu menurut Ikatan Konselor Indonesia (dalam www. Konselor.org, 2010:1) menyatakan bahwa alasan guru BK menggunakan kunjungan rumah sebagai alternatif pemecahan permasalahan yang terjadi pada siswa, adalah:
1.      Hanya sebagian kecil waktu anak di sekolah dan selebihnya berada di rumah. Untuk melengkapi pengalaman membimbing tentang seseorang perlu mengetahui kehidupan keluarga dimana anak itu tinggal dan banyak melakukan kegiatan sesudah pulang sekolah.
2.      Tidak sedikit masalah yang timbul di sekolah, berasal dari rumah.
Berdasarkan dari teori di atas maka pelaksanaan kunjungan rumah  bertolak dari permasalahan siswa di sekolah yang disebabkan kondisi/keadaan serta lingkungan rumah yang kurang baik. Semua masalah yang dialami siswa dapat menghambat proses belajar  dan menimbulkan berbagai masalah bagi diri siswa. Bersarkan hasil wawancara dengan guru BK di SMA N 3 Payakumbuh menyatakan bahwa  beberapa masalah yang dialami oleh  siswa sehingga perlu diadakannya kunjungan rumah adalah:
1.         Siswa yang malas belajar atau tidak masuk sampai batas ketentuan yang diatur oleh sekolah.
2.         Seringnya siswa tidak hadir ke sekolah tanpa memberikan keterangan kepada sekolah.
3.         Kurangnya disiplin  siswa dalam memenuhi  peraturan sekolah seperti terlambat, cabut dan sering tidak membuat tugas sekolah.
4.         Keadaan keluarga yang brokent home, berdasarkan data yang  dimiliki oleh guru BK, rata-rata dalam satu kelas terdapat 3 sampai 5 orang siswa yang memiliki keluarga broken home disetiap sekolah, sehingga mengganggu kehidupan efektif sehari-hari siswa tersebut yang berdampak pada hasil belajar siswa tersebut.
5.         Orang tua yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga tidak memperhatikan anaknya yang berprestasi rendah.

6.         Lingkungan sekitar tempat tinggal siswa yang kurang kondusif bagi pergaulan remaja. Hai ini kurang menguntungkan dalam perkembangan jiwa siswa yang dalam masa peralihan dari masa remaja ke masa dewasa.
Semua permasalahan yang dialami siswa tersebut di atas merupakan faktor penyebab utama terjadinya  konflik pergaulan dengan orang lain, kurangnya motivasi belajar dan mudah terbawa kepada pergaulan bebas. Dalam hal ini Abu Ahmadi (1992:248) menyatakan bahwa kejahatan-kejahatan dan kelakuan-kelakuan yang tidak senonoh  dari anak kebanyakan berasal dari  keluarga yang tidak harmonis dan pengaruh buruk dari lingkungan masyarakatnya.
Menurut Slameto (1988:52) menyatakan bahwa lingkungan rumah sebagai tempat pendidikan pertama bagi siswa hendaklah dapat memberikan peranan yang baik untuk perkembangannya. Pada Kenyataanya, disadari masih banyak keluarga atau lingkungan rumah yang bermasalah sehingga menimbulkan permasalahan bagi siswa terutama dalam proses belajar di sekolah.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa permasalahan yang dialami siswa yang berkaitan dengan kondisi keluarga siswa perlu diadakan pelaksanaan kunjungan rumah  oleh guru BK  untuk melihat sendiri kondisi keluarga atau lingkungan rumah siswa. Pelayanan  BK di sekolah dengan “ Pola 17 plus BK di sekolah” menunjukan pelaksanaan kunjungan rumah sebagai salah satu kegiatan  pendukung yang memberikan kontribusi guna memahami dan mengentaskan permasalahan siswa. Artinya melalui pelaksanaan kunjungan rumah guru BK  dapat memberikan bantuan untuk memecahkan permasalahan siswa yang berkaitan dengan kondisi rumah dan lingkungan secara lebih tepat sehingga permasalahan siswa tersebut dapat terentaskan.
Menurut Tim Pengembangan Materi BK PPPG Keguruan Jakarta (2000:18) mengatakan bahwa hasil yang diharapkan dari kunjungan rumah yang sukses ialah apabila guru BK memperoleh data atau keterangan tambahan yang amat berarti bagi pemecahan masalah siswa dan memperoleh komitmen yang kuat dari orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk memecahkan masalah tersebut.
Berdasarkan hasil observasi penulis di SMA dan SMK Negeri kota Payakumbuh, Semua guru BK di SMA dan SMK Negeri Payakumbuh telah pernah melaksanakan kunjungan rumah. Berikut keterangannya:
Tabel 1. Daftar Guru yang telah melaksanakan kunjungan rumah.
NO
SLTA
Jumlah Guru BK
Kunjungan rumah
1
SMA N 1 Payakumbuh
6 Orang
12 kali
2
SMA N 2 Payakumbuh
7 Orang
10 kali
3
SMA N 3 Payakumbuh
5 Orang
15 kali
4
SMK N 1 Payakumbuh
5 Orang
7  kali
5
SMK N 2 Payakumbuh
4 Orang
8 kali
6
SMK N 3 Payakumbuh
3 Orang
9 kali

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK SMA N  3 Payakumbuh selama 3 hari pada tanggal 17, 18, dan 20 Desember 2010 diperoleh keterangan bahwa guru BK mengalami permasalahan dalam melaksanakan kunjungan rumah,  di dalam pelaksanaan kunjungan rumah guru BK sering mengalami permasalahan sehingga hasil dari kunjungan rumah tersebut menjadi tidak maksimal padahal sebenarnya kunjungan rumah sangat penting dilakukan untuk melengkapi data dalam rangka mengentaskan permasalahan yang terjadi pada siswa. Berdasarkan hasil wawancara yang telah di lakukan permasalahan yang di alami guru BK dalam melaksanakan kunjungan rumah, antara lain :
1.      Guru BK mengalami permasalahan dalam persiapan yang di lakukan dalam melaksanakan kunjungan rumah. Kunjungan rumah sering di lakukan secara mendadak ke rumah siswa-siswa tersebut serta kunjungan rumah sering di lakukan tanpa seizin siswa dan sering di lakukan tanpa memberikan surat terlebih dahulu kepada orang tua siswa.
2.      Dalam melaksanakan kunjungan rumah guru BK sering di lakukan tanpa membawa format kunjungan rumah, sehingga dalam pelaksanaan kunjungan rumah data dan keterangan yang diperoleh dari orang tua tidak di masukan ke dalam format kunjungan rumah.
3.      Hasil dari kunjungan rumah jarang ditindak lanjuti, sehingga setelah melaksanakan kunjungan rumah guru BK jarang menindak lanjuti permasalahan siswa ke dalam layanan- layanan bimbingan dan konseling.
Berdassarkan fenomena-fenomena diatas, penulis ingin meneliti tentang “Pelaksanaan dan tindak lanjut Guru Bimbingan dan Konseling terhadap Pelaksanaan Kunjungan Rumah”.
B.     Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya rumusan masalah yang akan penulis teliti adalah “Bagaimanakah pelaksanaan dan tindak lanjut guru BK dalam melaksanakan kunjungan rumah”.
C.    Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih fokus, maka masalah dibatasi sebagai berikut:
1.      Pelaksanaan kunjungan rumah oleh guru BK
2.      Tindak Lanjut kunjungan rumah oleh guru BK
D.    Asumsi Dasar
Penelitian ini berangkat dari asumsi sebagai berikut :
1.      Permasalahan yang dialami siswa yang berkaitan dengan kondisi keluarga  perlu diadakan pelaksanaan kunjungan rumah  oleh guru BK  untuk melihat sendiri kondisi keluarga atau lingkungan rumah siswa.
2.      Pelaksanaan kunjungan rumah guru BK  dapat memberikan bantuan untuk memecahkan permasalahan siswa yang berkaitan dengan kondisi rumah dan lingkungan secara lebih tepat sehingga permasalahan siswa tersebut dapat terentaskan.
E.     Pertanyaan Penelitian
Untuk mendapatkan informasi yang diharapkan dalam penelitian secara garis besarnya peneliti membuat pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.      Bagaimana Pelaksanaan kunjungan rumah oleh guru BK
2.      Bagaimana tindak lanjut dari kunjungan rumah oleh guru BK
F.     Tujuan Penelitian
Berdasarakan permasalahan yang telah dikekemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan :
1.      Pelaksanaan kunjungan rumah oleh guru BK
2.      Tindak lanjut dari guru BK setelah melaksanakan kunjungan rumah
G.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan dan berguna bagi aspek berikut ini :
1.         Sebagai bahan masukan bagi guru BK di sekolah dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling khususnya  kegiatan kunjungan rumah, agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
2.         Sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah, agar bisa memotivasi guru BK dalam melaksanakan kunjungan rumah.
3.         Sebagai bahan acuan pagi penelitian  lain terutama yang meneliti bidang bimbingan dan konseling. Khususnya tentang kegiatan kunjungan rumah.
4.         Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang bimbingan dan konseling, khususnya kegaitan pendukung  seperti kunjungan  rumah yang menunjang usaha pengentasan masalah siswa sehingga ia dapat berkembang secara maksimal.
5.         sebagai bahan acuan bagi peneliti sendiri agar terhindar dari permasalahan ketika melaksanakan kegiatan kunjungan rumah pada nantinya.
H.    Penjelasan Istilah
1.       Pelaksanaan
Menurut  Aip Syaipuddin (1999:636) “ pelaksanaan adalah proses melakukan suatu perbuatan, cara mengerjakan/ beraktifitas : bahasa sumber dan bahasa sasaran. Jadi pelaksanan yang dimaksud di sini adalah proses aktivitas kunjungan rumah yang dilakukan oleh guru BK.
2.      Tindak Lanjut
Menurut Aip Syaipudin (1999:496) mengatakan bahwa tindak lanjut adalah suatu tindakan yang dilakukan setelah melaksanakan/ mengerjakan sesuatu aktifitas. Jadi tindak lanjut disini maksudnya adalah suatu tindakan yang di lakukan oleh guru BK setelah melaksanakan kunjungan rumah.
3.      Kunjungan Rumah
Menurut Tim Pengembangan Materi BK PPPG Keguruan Jakarta (2000:14) mengatakan bahwa kunjungan rumah merupakan salah satu kegiatan pendukung yang diadakan untuk memahami diri siswa yang bermasalah secara lebih lengkap di dalam proses pemberian bantuan melalui jenis layanan bimbingan dan konseling.













BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Kunjungan rumah
1.      Pengertian dan Kaitannya dengan Permasalahan Siswa
Kunjungan merupakan salah satu layanan pendukung dari kegiatan bimbingan dan konseling  yang dilakukan guru BK dengan mengunjungi orang tua/ tempat tinggal siswa. Kunjungan rumah menurut Prayitno (2006:2) merupakan upaya untuk mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan anak atau  individu yang menjadi tanggung jawab konselor dalam pelayanan konseling. Dengan kegiatan pendukung akan diperoleh berbagai informasi atau data yang dapat digunakan untuk lebih mengefektifkan layanan konseling dan dapat mendorong partisipasi orang tua (dan anggota keluarga lainnya) untuk sebesar-besarnya memenuhi kebutuhan anak atau individu yang bermasalah.
Senada dengan hal tersebut Tanthawi (1995:47)  mengatakan bahwa kunjungan rumah, yaitu kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, dan kemudahan bagi terentaskannya permasalahan siswa melalui kunjungan ke rumah siswa. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari orang tua  dan siswa. Kunjungan rumah dilakukan setelah siswa memahami dan menyetujui kegiatan tersebut.
12
13
Selain itu menurut Ikatan Konselor Indonesia (dalam, www.konselor.org) menyatakan bahwa home visit atau kunjungan rumah merupakan salah satu layanan pendukung dari kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan guru BK  atau wali kelas dengan mengunjungi orang tua/tempat tinggal siswa. Kegiatan dalam kunjungan rumah dapat berbentuk pengamatan dan wawancara, terutama tentang kondisi rumah tangga, fasilitas belajar, dan hubungan antaranggota keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan siswa. Masalah siswa yang dibahas dapat berupa bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan bidang bimbingan karier.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat didimpulkan bahwa pelaksanaan kunjungan rumah yang dilakukan guru BK adalah untuk mendapatkan data/keterangan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan siswa, seperti kondisi rumah tangga, orang tua, fasilitas belajar, hubungan  antar anggota keluarga, sikap  dan kebiasaan serta berbagai pendapat orang tua dan anggota rumah dilakukan oleh beberapa keluarga lainnya terhadap siswa.
Pada tahun lima puluhan pelaksanaan kunjungan rumah dilakukan oleh beberapa staf sekolah yang tujuannya untuk mendapatkan informasi yang sangat berguna bagi guru kelas. Dalam hal ini  Barr (1954:238) menyatakan :
Home visit are made as part ot the work of some members of the school staff. The  home visitor, the school nurse, the school physician, and the secondary school level agriculture and home economics teacher are expected to make visit to the homes of the are students as a routine part of the  school procedure. All the individuals mention may provide valuable information for classroom teacher.
Kutipan diatas menyatakan bahwa kunjungan rumah dilakukan sebagai bagian  dari kerja reguler beberapa staf sekolah, seperti pengunjung rumah, perawat sekolah, dokter sekolah, dan petugas presensi (kehadiran) yang bisa mengunjungi rumah siswa sepanjang tahun ajaran. Semua staf yang melakukan kunjungan rumah akan memberikan informasinya yang sangat berharga kepada guru kelas.
Pengertian di atas  dapat diketahui bahwa kunjungan rumah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh semua staf sekolah untuk mendapatkan informasi langsung mengenai keberadaan siswa dan informasi itu sangat berguna bagi guru kelas  atau guru BK  dalam memahami permasalahan siswa.
Di dalam pelaksaaan kunjungan rumah hendaklah dilakukan oleh guru BK  yang telah dilatih secara profesional. Sebagaimana Jane Warters (dalam Thantawi, 2003:45) menyatakan “home visit are most likely to be effective when made by a professionally visiting teacher”. Dengan profesionalisme yang dimiliki guru BK  pelaksanaan kunjungan rumah  akan mempermudah mendapatkan data atau keterangan siswa, sehingga guru BK  dapat memberikan bantuan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi siswa.
Siswa yang mengalami permasalahan dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya mempengaruhi  prestasi belajar, baik itu permasalahan diri pribadi, sosial, belajar dan karir. Permasalahan tersebut akan berkembang pada  kepada permasalahan pribadi dan kelompok. Dalam Hal ini Djumhur  dan Surya (1975:107) menyatakan permasalahan siswa dapat dilihat dari individu (personal/pribadi) dan kelompok, sehingga ada jenis bimbingan individual (counseling) dan jenis bimbingan kelompok.
Konseling pribadi dan konseling kelompok merupakan layanan BK yang dilakukan guru BK dalam memahami permasalahan. Permasalahan siswa dapat dilihat dari mana masalah itu datang, baik itu dari hubungan dalam keluarga dan situasi keluarga. Masalah keluarga dan situasi keluarga dapat mempengaruhi siswa di sekolah dalam hal  konsentrasi belajar dan aktivitas sekolah, sehingga mengakibatkan turunnya prestasi belajar siswa.
Banyaknya permasalahan yang dihadapi siswa diharapkan siswa dapat mengelola dirinya secara  baik sehingga ia dapat keluar dari kemelut permasalahannya. Sebagaimana yang dinyatakan A. Muri Yusuf (2002:22) dalam kondisi yang bagaimanapun, titik pangkal keberhasilan atau dapat keluar dari kemelut yang dihadapi adalah diri anda sendiri.  Dari pendapat ini dapat dipahami bahwa yang menyelesaikan permasalahan yang dialami siswa adalah dirinya sendiri. Disinilah diharapkan guru BK  dapat berperan serta dalam memberikan bimbingan kepada siswa, sehingga timbul dalam diri untuk keluar dari permasalahan yang dialaminya.
Menurut Prayitno (1997:15) membagi  jenis-jenis masalah dapat dilihat  dari (1) masalah jasmani dan kesehatan, (2) masalah pribadi, (3) masalah hubungan sosial, (4) masalah ekonomi dan keuangan, (5) masalah karir dan pekerjaan, (6) masalah pendidikan dan pengajaran, (7) masalah agama, nilai, dan moral, (9) masalah keadaan dan hubungan dalam keluarga, (10) masalah waktu senggang.
Jenis-jenis masalah satu dengan masalah yang lainnya. Misalnya, siswa siswa mengalami kesulitan dalam pengajaran tentu akan berpengaruh kepada  masalah-masalah lain seperti, sosial, pendidikan, pribadi, dan pekerjaan. Setiap jenis masalah membutuhkan cara dan jenis bimbingan tertentu.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa banyaknya permasalahan  yang dihadapi siswa, menurut guru BK harus dapat memahami dan mengentasi permasalahan. Salah satu usaha adalah dengan melakukan kunjungan rumah untuk mendapatkan data, keterangan, dan informasi yang berguna dalam memahami dan mengentaskan masalah siswa.
Permasalahan siswa yang dialami siswa tidak  semuanya memerlukan kunjungan rumah, hanya permasalahan yang membutuhkan pemahaman lebih jauh tentang suasana rumah atau keluarga, sesuai dengan pernyataan Prayitno dan Erman Amti (1999:32) bahwa permasalahan siswa menyangkut kadar yang cukup kuat peranan  rumah atau keluarga saja yang memerlukan kunjungan rumah.
Hal ini  bukan berarti pelaksanaan kunjungan rumah tidak penting untuk dilaksanakan tetapi malah sebaliknya, pelaksanaan ini sangat bermanfaat bagi siswa mengingat lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya. Sebagaimana dinyatakan Rochman Natawijaya (1979: 20) keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar  dalam perkembangan diri individu yang dapat dilihat dari 1) status sosial ekonomi, keadaan ini mempunyai  peranan terhadap tingkah laku anak, 2) keutuhan keluarga, ketidak utuhan keluarga, ketidakutuhan keluarga akan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan kecakapan di sekolah atau tingkah laku sosialnya, 3) sikap otoriter, demokratis, dan selalu melindungi atau memanjakan anaknya semua sikap ini akan mempengaruhi kepribadian anak.
2.      Tujuan Kunjungan Rumah
Tujuan dapat diartikan sesuatu yang ingin dicapai begitu pula dengan tujuan kunjungan rumah. Winkel (1991:264) menyatakan bahwa kunjungan rumah bertujan agar guru BK lebih mengenal lingkungan hidup siswa sehari-hari, khususnya bila informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh  melalui angket atau wawancara. Pernyataan ini ditunjukan bahwa kunjungan rumah tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi tentang siswa serta keadaanya dirumah dan tempat tinggalnya apabila tidak diperoleh melalui angket ataupun wawancara terhadap siswa di sekolah.
Menurut Thantawi (1995:47) menyatakan beberapa tujuan dari kunjungan rumah, yakni :
a.       Untuk menambah kelengkapan data/ informasi tentang siswa memalui wawancara dengan orang tua, dan hasil observasi suasana di rumah.
b.      Memberi penjelasan tentang keadaan siswa kepada  orang tua membangun kerja sama sekolah dan rumah.
c.       Mengembangkan tingkat kepedulian orang tua terhadap masalah anak.

Sedangkan Sukardi (2000:83) menyatakan bahwa kunjungan rumah yang dilakukan oleh guru BK mempunyai dua tujuan, pertama yakni memperoleh berbagai keterangan atau data yang diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan pemahaman siswa, kedua untuk pembahasan dan pemecahan permasalahan siswa.
Sejalan dengan ini Prayitno  (2006:3-4) juga melihat dua tujuan kunjungan rumah, yaitu tujuan umum, yakni; diperolehnya data yang lebih digalangkannya komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam rangka penanggulangan masalah klien. Yang kedua, tujuan khusus, yakni; dengan data yang lebih lengkap, dan mendalam  dan akurat ini upaya pengentasan masalah klien akan dapat lebih intensif.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan kunjungan rumah bertujuan untuk memahami lingkungan tempat tinggal siswa dan permasalahan siswa yang dapat mempengaruhi proses belajar.
3.      Fungsi kunjungan rumah
Dari berbagai banyak fungsi bimbingan dan konseling, fungsi yang uta  dalam pelaksanaan kunjungan rumah adalah fungsi pemahaman dan pengentasan. Menurut Prayitno  (1997:197) menyatakan bahwa  fungsi pemahaman dan fungsi pengentasan merupakan hal pokok yang harus dilakukan  guru BK di dalam melaksanakan kunjungan rumah. Dengan adanya fungsi pemahaman dan fungsi pengentasan  guru BK mudah memahami permasalahan yang dihadapi siswa.
a)      Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan  pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik, yang meliputi:
1)      Pemahaman tentang diri peserta didik, terutama oleh peserta  didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru BK.
2)      Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk di dalamnya lingkungan keluarga dan sekolah) terutama  oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru umumnya dan guru BK khususnya.
3)      Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas termasuk di dalamnya  informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan dan informasi sosial dan budaya/nilai-nilai terutama oleh peserta didik.
b)      Fungsi Pengentasan
Fungsi pengentasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terentaskannya  atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
Dua fungsi kegiatan kunjungan rumah tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung BK di sekolah. Setiap layanan dan kegiatan BK yang dilaksanakan haruslah  mengacu kepada satu layanan  bimbingan atau lebih, agar hal yang hendak dicapai jelas dapat diidentifikai dan evaluasi.
Menurut Admin (dalam www. Bimbingan dan konseling, 2009:2) menyatakan bahwa memahami permasalahan yang dihadapi siswa yang berhubungan dengan tempat tinggal siswa dan anggota keluarganya akan memberikan kemudahan  dalam mengentaskan masalah yang dihadapinya. Seorang guru BK harus  memahami keadaan, lingkungan  siswa serta masalah yang dihadapi siswa karena dengan memahaminya dapat membantu guru BK dalam mengentaskan masalah tersebut. Terentaskannya masalah siswa dapat memberikan dorongan  dan semangat kepada siswa  dalam menjalani kehidupannya, sehingga siswa dapat merencanakan apa yang harus ia lakukan demi masa depan kehidupannya.
4.      Materi kunjungan  rumah
Kunjungan rumah yang dilakukan  guru BK bertujuan untuk memperoleh berbagai data. Keterangan serta berbagai hal yang menyangkut langsung dengan permasalahan siswa. Menurut Prayitno (1999: 95-95) menyatakan bahwa data dan keterangan ini meliputi :
a.       Kondisi rumah tangga dan orang tua
b.      Fasilitas belajar yang ada dirumah
c.       Hubungan dengan anggota keluarga
d.      Sikap dan kebiasaan anak (siswa) di rumah
e.       Berbagai pendapat orangtua dan anggota  keluarga  lainnya terhadap anak (siswa)
f.       Komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak dan pengentasan masalah anak.
Semua data dan keterangan yang diperoleh melalui kunjungan rumah yang dilakukan guru BK dapat pula menyangkut seluruh bidang bimbingan  dan konseling, yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Data dan keterangan yang diperoleh ini sangat berguna  sekali dalam pemberian layanan BK kepada siswa sehingga permasalahan siswa dapat dientaskan secara cepat dan tepat.
B.     Pelaksanaan Kunjungan rumah oleh guru BK.
1.      Persiapan kegiatan kunjungan rumah
Sebelum kegiatan kunjungan rumah dilakukan guru BK hendaklah terlebih dahulu melakukan persiapan yang matang, mengenai rencana kegiatan kunjungan rumah. Adapun persiapan tersebut menurut Prayitno  (1997:157) antara lain :
a.       Hendaklah membicarakan terlebih dahulu kepada siswa yang bersangkutan tentang rencana  kunjungan rumah, maka perlu diusahakan agar pada akhirnya siswa menyetujui rencana kunjungan rumah tersebut dan hak ini terkait dengan azas kerahasiaan.
b.      Merencanakan dengan matang yang mencakup antara lain:
1)      Waktu kunjungan
2)      Isi kunjungan, yakni apa saja yang hendak dibicarakan dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya, apa yang hendak diobservasi; dan komitmen apa yang hendak diminta dari orang tua.
c.       Pemberitahuan kepada orang tua yang akan dikunjungi ( dengan seizin kepala sekolah).
Selain itu menurut Yusuf Gunawan (1992:237) menyatakan bahwa pelaksanaan kunjungan rumah memerlukan perencanaan dan persiapan  yang matang  dari guru BK dan memerlukan kerjasama yang baik dari pihak orang tua serta atas persetujuan kepala sekolah.
Selanjutnya menurut Winkel (1991:298) dalam melakukan kunjungan rumah guru BK haruslah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Mengadakan persiapan mental sebelumnya mengenai hal-hal mana ingin diperoleh informasi apa.
b.      Menghindari memberikan kesan seolah-olah diadakan pemeriksaan dan pengeledahan.
c.       Harus ada kepastian sebelum kunjungan rumah bahwa kedatangan  petugas bimbingan akan disambut dengan baik. Kepastian ini dapat diperoleh dengan menanyai siswa bersangkutan tentang rencana kunjungan rumah.
d.      Informasi yang di dapat  dikumpulkan biasanya mencakup hal-hal: letak  rumah dan keadaan rumah, fasilitas belajar, kebiasaan belajar siswa dan suasana keluarga.
e.       Sesudah kembali dari kunjungan rumah, petugas bimbingan menyusun laporan singkat tentang informasi yang diperoleh, dengan membedakan antara fakta serta data dan kesan pribadi yang merupakan interprestasi terhadap informasi.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum kegiatan kunjungan rumah diadakan, guru BK harus memiliki persiapan, baik mental maupun fisik. Agar kegiatan kunjungan rumah berjalan dengan baik sesuai dengan tujuannya, yakni untuk mengentaskan  permasalahan yang dihadapi siswa, dimana sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Persiapan itu terutama menyangkut  kegiatan wawancara, pengamatan terhadap  fasilitas belajar  anak di rumah, pengamatan terhadap fasilitas belajar anak di rumah, diskusi atau bimbingan  dan konseling kelompok dengan anggota keluarga..
2.      Manajemen kegiatan kunjungan rumah
Menurut Prayitno (2006:14-15) manajemen  kegiatan kunjungan rumah meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.       Perencanaan
1)      Menetapkan kasus yang memerlukan kunjungan rumah
2)      Menetapkan materi kunjungan rumah
3)      Meyakinkan siswa pentingnya kunjungan rumah
4)      Menyiapkan  informasi pokok yang akan di komunikasikan pada keluarga
5)      Menyiapkan kelengkapan administrasi.
b.      Pelaksanaan
1)      Mengkomunikasikan rencana kunjungan rumah kepada pihak terkait
2)      Melakukan kunjungan rumah
a)      Bertemu orang tua/wali/anggota keluarga
b)      Membahas permasalahan siswa
c)      Melengkapi data
d)     Mengembangkan komitmen orang tua/wali/keluarga
e)      Merekam dan menyimpulkan hasil pembahasan
c.       Evaluasi
1)      Mengevaluasi  kelengkapan dan kemanfaatan hasil kunjungan rumah, dan komitmen orang tua/ wali/ anggota keluarga dalam penanganan kasus
2)      Mengevaluasi proses pelaksanaan kunjungan rumah
d.      Analisis Hasil Evaluasi
Melakukan analisis terhadap efektivitas hasil kunjungan rumah terhadap penanganan kasus
e.       Tindak lanjut
1)      Menggunakan hasil kunjungan rumah dalam penanganan kasus
2)      Bahan pertimbangan untuk perlunya  melengkap data lebih lanjut
f.       Laporan
1)      Menyusun laporan kegiatan kunjungan rumah
2)      Menyiapkan laporan kepada pihak terkait
3)      Mendokumentasikan laporan kegiatan kunjungan rumah
Melakukan manajemen pelaksanaan kunjungan rumah dengan baik membantu guru BK dalam rangka menjalani kegiatan tersebut secara baik dan benar, karena telah terprogram dengan jelas apa yang  akan dilakukan. Kegiatan ini dilakukan guru BK untuk mendapatkan data dan keterangan siswa serta memahami permasalahan siswa secara tepat. Hasil kegiatan tersebut dapat digunakan dalam memberikan layanan BK kepada siswa, sehingga siswa dapat berkembang secara maksimal. Perolehan hasil kunjungan rumah  kemudian di evaluasi, di analisi dan di tindak lanjuti demi kepentingan pengentasan permasalahan siswa.
                  Di dalam pelaksanaan kunjungan rumah yang dilaksanakan oleh guru BK dapat pula dilakukan semacam “konferensi kasus” diikuti oleh segenap anggota keluarga. Hal ini diharapakan dapat membantu pemecahan permasalahan siswa dengan penekanan asas kerahasian. Konfrensi  kasus menganalisis berbagai masalah siswa secara baik, terinci dan sebab terjadinya, sangkut pautnya antara berbagai permasalahan serta berbagai kemungkinan pemecahannya dan faktor-faktor yang menunjang proses pemecahan masalah tersebut.
C.    Kerangka Konseptual
Pelaksanaan
Guru BK
Kunjungan Rumah
Tindak lanjut
permasalahan
 







Keterangan :
Berdasarkan kerangka konseptual diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan kunjungan rumah guru BK mengalami  hambatan/permasalahan dalam melaksanakan kunjungan rumah dan tindak lanjutnya  sehingga hasil kegiatan kunjungan rumah yang dilaksanakan oleh guru BK menjadi tidak efektif dan maksimal.












BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Bertitik tolak dari permasalahan yang akan diteliti maka penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Menurut A. Muri Yusuf (2005:53) penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematika, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail. Dalam  penelitian ini akan diungkapkan apa adanya mengenai permasalahan yang dialami guru BK dalam melaksanakan kunjungan rumah dan upaya mengatasinya pada  SLTA  Negeri  kota Payakumbuh.
B.     Subjek Penelitian
Subjek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh guru BK yang bertugas di SMA dan SMK Negeri  Kota Payakumbuh  yang  telah melaksanakan kunjungan rumah yang berjumlah 30 Orang. Pendistribusian subjek penelitian dapat dilihat pada table di bawah ini:




28
 



Tabel 2.
Subjek Penelitian

NO
 SLTA
Jumlah Guru BK
1
SMA N 1 Payakumbuh
6 Orang
2
SMA N 2 Payakumbuh
7  Orang
3
SMA N 3 Payakumbuh
5 Orang
4
SMK N 1 Payakumbuh
5 Orang
5
SMK N 2 Payakumbuh
4  Orang
6
SMK N 3 Payakumbuh
3 Orang
Jumlah keseluruhan subjek penelitian
30  Orang
(Sumber : Dinas pendidikan Kota payakumbuh 2010/2011)      
C.    Jenis dan Sumber Data
            Jenis data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari subjek penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau subjek penelitian. Adapun yang menjadi responden yaitu semua guru BK di SMA, SMK, MA Negeri  Kota  Payakumbuh.
D.    Intrumen  Pengumpulan Data
       Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data dalam  penelitian ini adalah angket dengan menggunakan skala Likert. Adapun langkah-langkah penyususnan instrumen hingga pengadministrasian instrumen adalah sebgai berikut:
1.      Membaca literatur yang berhubungan dengan pelaksanaan kunjungan rumah oleh guru pembimbing  serta menetapkan teori yang dipakai.
2.      Menyusun kisi-kisi instrumen berdasarkan teori yang ada. Instrumen disusun dengan tujuan menjabarkan variabel menjadi beberapa sub variabel, kemudian diuraikan menjadi indikator.
3.      Berdasarkan indikator tersebut dibuat pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Angket ini  dibuat dengan pilihan jawaban mengacu pada skala Likert yaitu pilihan jawaban untuk setiap item terdiri dari 5 (lima) alternatif.
4.      Menyususn petunjuk pengisian instrumen yang  sesuai dengan pernyataan-pernyataan yang disediakan.
5.      Mendiskusikan instrumen yang telah disusun dengan dosen pembimbing dan menerima masukan yang diberikan pembimbing.
6.      Merivisi instrumen dengan masukan yang diberikan oleh dosen pembimbing
Terlebih dahulu dilakukan penimbangan oleh dosen jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNP dan direvisi sesuai dengan saran-saran dan masukan yang diterima kenudian siap digunakan untuk penelitian.
E.     Teknik analisis data
            Agar data yang diperoleh dapat menjawab pertanyaan penelitian yang sudah dijelaskan di atas maka teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh menggunakan rumus persentase yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1998:113), yaitu :
                            P=  x 100

Keterangan : P            = Persentase yang dicari
                     F = Frekuensi
                    N = Jumlah Responden
            














KEPUSTAKAAN
A.    Muri Yusuf. 1997. Dasar-dasar Metode Penelitian. Padang: FIP UNP.

-------------------. 2002. Kiat Sukses dalam Karir. Jakarta: Ghalia indonesia.
Abu Ahmadi.1992. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Admin. 2009. Bimbingan dan Konseling. http//a741k.web44.net/Bimbingan dan Konseling.htm. 23 Februari.
AIP syaipuddin, dkk. 1999. Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: depdikbud.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Pengembangan Diri. Padang: UNP.
Barr A. John (1954). The Elemtaryteacher dan Guidance.  Newyork: Holt rihenrt and winston.
Dewa ketut sukardi. 2000. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
I Djumhur dan Surya, Moh. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung: Ilmu.
Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008. 2009. Jakarta: Gramedia.
Prayitno. 1987. Orientasi  Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
-----------. 1997. Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi
-----------. 1999. Panduan Kegiatan Pengawasan BK di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
----------. 2001. Panduan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
----------. 2006. K1-K6. Padang: BK UNP
----------. 2004. Layanan Konseling Perorangan. Padang: Jurusan BK FIP UNP.
32
Prayitno dan Erman Amti. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
33
Ridwan. 2004. Belajar Mudah Peneliti Untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfa beta.
Rochman Natawidjaja. 1987. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Depdikbud.
------------------------.1979. Psikologi Umum dan Sosial. Jakarta: Jasanku Jakarta.
Slameto. 1988. Bimbingan di Sekolah. Jakarta: Bina Aksara.
Thantawy. 1995. Manajemen Bimbingan dan Konseling. PT. Pamator Presisindo: Jakarta

Tim Pengembangan Materi BK PPPG Keguruan Jakarta. 2000. Konferensi Kasus, Kunjungan Rumah, dan Alih Tangan Kasus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Thohirin. Bimbingan dan Konseling Di Sekolah dan Di Madrasah. Jakarta: PT Grasindo Persada.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Tahun 2003. 2006. Jakarta: Gramedia.

Winkel. W.S. 1991. Bimbingan dan konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Yusuf Gunawan. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT. Gramedia
http//www. Ikatan Konselor Indonesia. 2010. Kunjungan Rumah.org.
http//www. SK Mendikbud No 025/0/1995. Org
.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar