Selasa, 24 September 2013

Model- model Pembelajaran


MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
1.      Model Pembelajaran Small Group Discussion
a.      Pengertian
Secara sederhana pengertian small group discussion penulis uraikan sebagai berikut, small artinya kecil,  group artinya kelompok (dynamic group) kelompok dinamik, discussion artinya tukar pendapat untuk memecahkan suatu masalah/ mencari kebenaran.
Small group discussion  merupakan bagian dari banyak metode pembelajaran yang memacu keaktifan peserta didik. metode ini selain sebagai metode diskusi juga sebagai metode pemecahan masalah (problem solving). Small group discussion dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi dalam sub masalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya. Dalam small group discussion peserta didik membuat kelompok kecil (5 sampai 6 orang) untuk mendiskusikan bahan yang diberikan oleh guru atau bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.
Small group discussion adalah metode pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara lebih aktif dengan bekerja sama dalam kelompok untuk mencapai sebuah tujuan yang ditetapkan. Dalam small group discussion siswa dirangsang untuk mengeksplorasi gagasan, meningkatkan pemahaman hal yang baru, teknik untuk memecahkan masalah, mendorong pengembangan berpikir dan berkomunikasi secara efektif, memperbaiki kerja sama kelompok, dan meningkatkan dan keterlibatan siswa dalam mengambil keputusan (Djamarah, 2005:159). Metode tersebut berpijak dari beberapa teori pembelajaran yang menekankan agar siswa dapat mandiri dan aktif dalam pembelajarannya.
Menurut Djamarah (2005: 157) pembelajaran dengan metode small group discussion berhubungan erat dengan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, keterampilan penguatan, serta keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Tidak semua pembicaraan dalam small group dikatakan diskusi, tetapi yang dimaksud dengan pembelajaran small group discussion ini adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan membagi informasi, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Dari pengertian tersebut, small group discussion memiliki empat karakteristik, yaitu: 1. Melibatkan sekelompok individu; 2. Melibatkan peserta dalam interaksi tatap muka tidak formal; 3. Memiliki tujuan dan kerja sama; 4. Serta mengikuti aturan.
Sedangkan menurut Roestiyah (2001: 5), mengajar dengan teknik small group discussion ini mengandung pengertian:
1.      Kelas dibagi dalam beberapa kelompok
2.      Mendorong partisipasi siswa secara individual
3.      Menghidupkan kegiatan kelas
4.      Mengembangkan rasa sosial diantara siswa, karena dapat membantu dalam memecahkan masalah secara bersama-sama.
5.      Mendorong siswa untuk saling mengungkapkan pendapat.
6.      Mendorong adanya pendekatan secara demokratis
7.      Membantu mengembangkan kepemimpinan
          Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa small group discussion adalah Metode pembelajaran yang membahas suatu topik yang dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang antara siswa dengan siswa.
b.      Tujuan
1)      Melatih kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
2)      Melatih siswa untuk mencapai metode pembelajaran student centered learning
3)      Menambah pengetahuan dan informasi
4)      Saling membantu sesama anggota kelompok
5)      Agar Peserta didik mempunyai keterampilan di dalam memecahkan masalah, baik terkait pokok pada pembelajaran maupun persoalan yang di hadapi di dalam kehidupansehari-hari.
6)       Melatih siswa belajar dengan orang lain, karena belajar tidak harus dengan guru
7)      Melatih siswa bagaimana cara menanggapi orang lain
8)      Melatih siswa bagaimana memelihara kekompakan
9)      Belajar tentang teknik-teknik pengambilan keputusan
Tujuan dari small group discussion ini adalah:
1)      Diskusi mendorong siswa untuk aktif menggunakan pengetahuan dan pengalamanya dalam memecahkan masalah tanpa bergantung pada orang lain.
2)      Siswa mampu menyampaikan pendapat secara lisan. Sebab hal ini diperlukan untuk kehidupan yang demokratis.
3)      Diskusi memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar kritis dan berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah secara bersama.
4)      Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
5)      Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus masalah.
6)      Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengerjakan keterampilan berdiskusi.
7)      Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu dalam belajar.
8)      Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai atau menghormati temannya, menghargai pendapat orang lain, yang mana mereka saling membantu kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama (Roestiyah, 2001: 6).
Adapun aktivitas small group discussion dapat berupa:
1.      Membangkitkan ide.
2.      Menyimpulkan poin penting.
3.      Mengasah tingkat skills dan pengetahuan.
4.      Mengkaji kembali topik sebelumnya.
5.      Menalaah latihan, quiz, tugas menulis.
6.      Memproses outcome pembelajaran pada akhir kelas.
7.      Memberi komentar tentang jalannya pembelajaran.
8.      Membandingkan teori, isu dan interpretasi.
9.      Menyelesaikan masalah.
10.  Brainstroming.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari small group discussion adalah :
1.      Menggali ide
2.      Menyimpulkan poin penting
3.      Mengakses banyak skill siswa
4.      Mengkaji kembali topik sebelumnya
5.      Membandingkan teori
6.      Untuk menyelesaikan masalah
7.      Saling membantu anggota kelompok
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
Langkah-langkah merupakan tahapan yang akan dilakukan dalam melaksanakan kegiatan, dalam hal ini adalah langkah-langkah dalam melaksanakan small discussion, yaitu :
1)      Bagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil (maksimal 5 siswa) dengan menunjuk ketua dan sekretarisnya
2)      Berikan soal studi kasus ( yang dipersiapkan oleh guru) sesuai dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD)
3)      Instrusikan setipa kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut
4)      Pastikan setiap kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut
5)      Instruksikan setiap kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut
6)      Pastikan setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam diskusi
7)      Instrusikan setiap kelompok melalui juru bicara yang ditunjuk menyajikan hasil diskusinya dalam forum kelas
8)      Klarifikasikan, penyimpulan dan tindak lanjut (guru).
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan model belajar small group discussion, dapat berupa :
1.      Persiapan untuk diskusi
a.       Menyiapkan materi-materi untuk didiskusikan
b.      Materi yang disiapkan bisa berasal dari guru maupun siswa sendiri
2.      Pelaksanaan
a.       Mengatur waktu
b.      Menjelaskan hasil diskusi
c.       Guru mengontrol siswa dalam berdiskusi
3.      Pelaporan hasil
a.       Diskusi bisa dilakukan beberapa kali
b.      Hasil diskusi di catat dan ditunjukan dengan sumber-sumbernya
D. Contoh materi Layanan
1.      Layanan informasi tentang “cara belajar efektif”
2.      Layanan Informasi tentang “kiat sukses dalam bergaul”
3.      Layanan Informasi tentang “kiat sukses dalam belajar”

2.      Model Pembelajaran Role- Play & Simulation
a.      Pengertian
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Model Pembelajaran Role Playing adalah suatu tipe Model pembelajaran Pelayanan (Sercvice Learning). Model pembelajaran ini adalah suatu model penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan murid. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan murid dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benada mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal ini bergantung kepada apa yang di perankan (Komalasari: 2010).
Dapat disimpulkan pengertian dari role playing adalah Metode pembelajaran dengan cara bermain peran, dimana peran itu disimulasikan/ di pura-purakan.
b.      Tujuan
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
Adapun tujuan Role Playing menurut Shaftel (dalam http://www.elearning-jogja.org) antara lain:
1.      Untuk mempelajari indra dan rasa siswa terhadap sesuatu. Artinya role playing bertujuan untuk melihat kepekaan siswa terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.
2.      Role Playing dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman dalam nilai dan rasa. Artinya role playing dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman terhadap suatu konsep, prinsip atau keterampilan tertentu melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari role playing adalah sebagai berikut :
1.      Untuk menghayati berbagai peran/ perasaan orang
2.      Menambah dan memperkaya sistem pembelajaran tradisional
3.      Memberikan motivasi
4.      Memberikan keterampilan kehidupan nyata
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
1)      Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
2)      Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm
3)      Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
4)      Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
5)      Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
6)      Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
7)      Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
8)      Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
9)      Guru memberikan kesimpulan secara umum
10)  Evaluasi
11)  Penutup
Dari keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa langkah dari penggunaan role playing adalah :
1.      Persiapan
a.       Memberikan topik kepada siswa
b.      Bisa dibentuk dengan kelompok (small group discussion)
c.       Siswa mencari informasi tentang perannya tersebut dari berbagai sumber

2.      Pelaksanaan
a.       Waktu yang digunakan
b.      Siswa memainkan peran masing-masing yang telah di beri topik

3.      Pelaporan hasil
Siswa melaporkan hasil permainan perannya dengan cara ditulis
D. Contoh materi layanan
1.      Layanan informasi tentang “pemilihan karir” (dokter, guru, tentara, pilot, dll)
2.      Layanan Informasi informasi “tentang peran keluarga” contohnya bagaimana menjadi ayah, ibu, kakak, adik, anak, dll)
3.      Layanan informasi tentang “penyelamatan diri saat  gempa”

3.      Model Pembelajaran  Case Study
a.      Pengertian
Case Study atau studi kasus adalah rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas. Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran.
Melalui pengkajian Case Study dalam pembelajaran dengan segala komponennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evaluation), dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas.
Case Study ditulis dalam bentuk narasi dan berisi pengalaman pembelajaran yang paling berkesan yang Anda ingat karena kesuksesannya, kesulitan, atau pengalaman yang penuh problematika.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa case study adalah Rangkuman pengalaman pembelajaran yang di tugaskan kepada siswa (studi kasus) dimana siswa di suruh mengamati sesuatu yang telah ditugaskan.

b.      Tujuan
1)      Untuk evaluasi diri (self evaluation) bagi guru untuk dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas
2)      Untuk membuka wawasan terhadap pembelajaran dan penanaman konsep bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung
3)      Bisa belajar dari kesalahan orang lain
4)      Menemukan kekurangan dan kelabihan proses pembelajaran berdasarkan pengalaman penulis case study.
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
Kita perlu mengetahui pokok-pokok keterampilan dari orang yang melakukan studi kasus tersebut terlebih dahulu sebelum masuk lebih dalam. Di sini, Robert K. Yin juga menyempatkan diri untuk membagi, sebagaimana berikut:
1)      Seseorang/siswa harus mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik dan menginterpretasikan jawaban-jawabannya
2)      Seseorang harus menjadi “pendengar” yang baik dan tidak terperangkap oleh ideologi-ideology atau prakonsepsinya
3)      Sesorang hendaknya mampu menyesuaikan diri dan fleksibel agar situasi yang baru dialami dapat dipandang sebagi pelaung dan bukan ancaman
4)      Seseorang harus memiliki daya tangkap yang kuat terhadap isu-isu yang akan diteliti, apakah hal ini berupa orientasi teoritis atau kebijakan, ataupun bahkan berbentuk ekploratoris. Daya tangkap seperti inti mengurangi peristiwa-peristiwa yang relevan dan informasi yang harus dipilih ke arah proporsi yang bisa dikelola.
5)      Seseorang harus tidak bias oleh anggapan-anggapan yang sudah ada sebelumnya; termasuk anggapan-anggapan yang diturunkan dari teori. Karena itu, seseorang harus peka dan responsive terhadap bukti-bukti yang kontradiktif
Metode untuk Mengembangkan Case Study, adalah sebagai berikut :
a)        Seorang guru menceritakan/menulis pengalaman yang sukses atau suatu permasalahan yang menarik yang muncul saat pembelajaran dengan pokok bahasan atau topik tertentu. Pengalaman yang diceritakan/dituliskan itu menggambarkan pemikiran guru tersebut tentang mengapa permasalahan atau pengalaman tersebut menarik.
b)        Harus ditulis sesegera mungkin supaya tidak mudah terlupakan
c)        Sebagai masukan dalam penulisan, penulis narasi dapat mempedomani komentar-komentar guru lain (guru mitra) yang ikut mengamati proses pembelajaran
d)       Persiapan guru
e)        RPP
f)         Pelaksanaan Pembelajaran
• Kegiatan awal, inti, dan akhir
• Metode dan strategi pembelajaran
• Materi pembelajaran
• Evaluasi
• Ketercapaian tujuan pembelajaran
g)        Perilaku siswa
h)        Perasaan guru (keberhasilan, kegagalan, dan persepsinya terhadap siswa)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebuah case study dalam bentuk narasi pembelajaran, prosesnya adalah sebagai berikut.
1) Ada tim kolaborasi (beberapa orang guru)
2) Ada persiapan-persiapan prapembelajaran
3) Praktik pembelajaran di kelas (ada yang berpraktik mengajar dan ada yang mengamati)
4) Pengamat menuliskan komentarnya
5) Komentar yang ditulis oleh pengamat tidak berupa “potret pembelajaran”, tetapi mengarah pada proses pembelajaran dengan segala komponennya
6) Komentar pengamat ditulis pada saat proses pembelajaran berlangsung
7) Pada akhir pembelajaran, komentar pengamat diserahkan kepada guru yang berpraktik mengajar
8) Guru yang berpraktik mengajar menuliskan pengalaman pembelajarannya dalam bentuk narasi pembelajaran
9) Narasi yang sudah ditulis, diberi judul yang sesuai
10) Setelah menulis narasi, guru juga menulis refleksi dengan cara membaca kembali narasi yang ditulisnya, kemudian baru menuliskan refleksi.
11) Narasi yang sudah ditulis dibaca oleh pengamat dan pengamat menuliskan komentarnya berdasarkan narasi dan hasil pengamatan pembelajaran
12) Case study dilengkapi dengan RPP dan hasil kerja siswa
13) Narasi memuat semua hal yang dialami dan dirasakan guru dalam pembelajaran, termasuk di dalamnya perilaku siswa.
Dapat disimpulkan langkah penggunnaa dari case study adalah sebagai berikut :
1.      Siswa diberikan topik
2.      Siswa disuruh mengamati, menceritakan, menuliskan, serta menganalisa topik yang diberikan
3.      Hasilnya bisa buat dalam bentuk tulisan (laporan).
D. Contoh materi layanan
1.      Layanan informasi tentang “ cara belajar yang baik” bisa dilihat melalu vidio, anak yang berprestasi”
2.      Layanan Informasi tentang “cara menjadi orang yang sukses” bisa lansung bertanya dan mengamati orang-orang yang sukses di sekeliling siswa
3.      Layanan Informasi tentang “ Bahaya merokok”

4.      Model Pembelajaran Discovery Learning (DL)
a.      Pengertian
Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Blake et al. membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu: (1) mengklarifikasi; (2) menarik kesimpulan secara induksi; (3) pembuktian kebenaran (verifikasi).
Dapat disimpulkan bahwa discovery learning adalah Metode pembelajaran dengan cara siswa menemukan sendiri konsep atau prinsip.
b.      Tujuan
Bell (1978) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a.                Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan
b.                Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit mauun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan
c.                Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d.               Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.
e.                Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
f.                 Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari discovery learning adalah :
1.      Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran
2.      Siswa belajar menemukan pola dalam situasi kongkrik maupun abstrak
Siswa bisa menemukan sendiri sumber belajar yang ia perlukan
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
1.      identifikasi kebutuhan siswa;
2.      seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
3.      seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
4.      membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
5.      mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
6.      mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
7.      memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
8.      membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
9.      memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
10.  merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya
Langkah-langkah pembelajaran discovery menurut Joyce, Weil, dan Calhoun (2000: 179-181) adalah :
a) Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskan kepada para siswa.
b) Pengumpulan data dan verifikasi mengenai suatu informasi yang dilihat dan dialami (situasi problematik)
c) Pengumpulan data dan eksperimentasi, para siswa diperkenalkan dengan elemen baru kedalam situasi yang berbeda.
d) Memformulasikan penjelasan
e) kesimpulan 
Dapat disimpulkan bahwa langkah penggunaan discovery learning adalah sebagai berikut:
1.      Guru memberikan topik
2.      Siswa pengumpulkan data dan eksperimentasi melalui berbagai macam sumber belajar
3.      Siswa mendiskusikannya dikelas maupun dengan kelompok
4.      Guru disini sebagai pengarah, petunjuj, motivator, inovator

D. Contoh materi pelajaran
1.      Layanan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja
2.      Layanan informasi tentang penjurusan

5.      Model Pembelajaran Self Directed Learning (SDL)
a.      Pengertian
Self Directed Learning (SDL) adalah suatu model di mana antara proses dan kontrol siswa memiliki kaitan dan interaksi yang sangat erat satu sama lainnya. SDL digambarkan sebagai suatu proses di mana individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain dalam mendiagnosis apa yang diperlukan dalam pembelajarannya, merumuskan target belajar, mengidentifikasi manusia dan sumber daya material untuk belajar, memilih dan mengimplemetasikan sesuai dengan strategi pembelajaran, dan mengevaluasi hasil belajar. Menurut Knowles (dalam Zulharman, 2008), SDL didefinisikan sebagai sesuatu proses di mana seseorang memiliki inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, untuk menganalisis kebutuhan belajarnya sendiri, merumuskan tujuan belajarnya sendiri, mengidentifikasi sumber–sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai serta mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. Ricard (2007) mendefinisikan SDL adalah proses di mana siswa dilibatkan dalam mengidentifikasi apa yang perlu untuk dipelajari dan menjadi pemegang kendali dalam menemukan dan mengorganisir jawaban. Hal ini berbeda dengan belajar sendiri di mana guru masih boleh menyediakan dan mengorganisir material pendidikan, tetapi siswa belajar sendiri atau berkelompok tanpa kehadiran guru. Selain itu Merriam dan Caffarela (dalam Zulharman, 2008) menyatakan SDL sebagai suatu metode belajar di mana pelajar mempunyai tanggung jawab yang utama dalam perencanaan, pelaksanakan dan penilaian hasil belajar. 
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari self directed learninga adalah Metode pembelajaran yang mengajak siswa mengambil inisiatif, mendiagnosis apa yang diperlukan  merumuskan, mengidentifikasi, serta mengevaluasi secara sendiri.
b.      Tujuan
1)      Agar siswa mampu mengambil tindakan
2)      Agar siswa mampu mengajukan pertanyaan
3)      Agar siswa bisa membuat pilihan
4)      Agar siswa bisa membangun kesadaran
5)      Agar siswa mampu membangun kerjasama
6)      Agar siswa mampu membuat rencana
7)      Agar siswa mandiri mengikuti rencana dan mengukur kemajuan diri
8)      Agar siswa mandiri menentukan hasil akhir

c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
Menurut Hiemstra (dalam Sunarto, 2008), langkah-langkah pembelajaran SDL terbagi menjadi 6 langkah yaitu: 
1) preplanning (aktivitas awal proses pembelajaran) 
2) menciptakan lingkungan belajar yang positif 
3) mengembangkan rencana pembelajaran 
4) mengidentifikasi aktivitas pembelajaran yang sesuai 
5) melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring
6) mengevaluasi hasil belajar individu.
D. Contoh materi Layanan
1.      Merencanakan topik
2.      Menciptakan lingkungan belajar
3.      Melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring
4.      Mengevaluasi hasil belajar siswa

6.      Model Pembelajaran Cooperative Learning (CL)
a.      Pengertian
Cooperative Learning mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan Cooperative Learning, mahasiswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh kelompoknya. Jadi, belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerjasama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Dan dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian dari cooperative learning adalah Model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok, yang kelompoknya dibagi oleh guru dan anggota kelompoknya bersifat heterogen


b.      Tujuan
1)       Meningkatkan hasil belajar akademik
 Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan social, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit.
2)      Penerimaan terhadap keragaman
 Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbada latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas – tugas bersama.
3)      Pengembangan keterampilan sosial
Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi untuk saling berinteraksi dengan teman yang lain.

3.      Penggunaan dan Lanngkah-langkah
Langkah-langkah dalam penggunan model Cooperative Learning secara umum (Stahl, 1994, Slavin, 1983) dapat dijelaskan secara operasional sebagai berikut:
1. Langkah pertama,  yang dilakukan guru adalah merancang rencana program pembelajaran. Pada langkah ini guru mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. guru juga menetapkan sikap dan keterampilan sosial. Guru  harus mengorganisasikan materi dan tugas-tugas mahasiswa yang mencerminkan sistem kerja dalam kelompok kecil. Untuk memulai pembelajaran, guru harus menjelaskan tujuan dan sikap serta ketrampilan sosial yang ingin dicapai dan diperlihatkan oleh mahasiswa selama pembelajaran. Hal ini mutlak harus  guru, karena dengan demikian mahasiswa bisa mengetahui dan memahami apa yang harus dilakukannya selama selama proses belajar mengajar berlangsung.
2.  Langkah kedua, dalam aplikasi pembelajaran di kelas, guru merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Guru  menjelaskan pokok-pokok materi dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai wawasan dan orientasi yang memadai tentang materi yang diajarkan. Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah menggali pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi pelajaran berdasarkan apa yang telah dipelajari. Berikutnya guru membimbing siswa untuk membuat kelompok pemahaman dan konsepsi dosen terhadap siswa secara individual untuk menemukan kebersamaan dari kelompok yang terbentuk. Kegiatan ini dilaksanakan sambil menjelaskan tugas yang harus dilakukan siswa dalam kelompoknya masing-masing. Dan pada saat siswa belajar secara kelompok, maka dosen mulai melakukan monitoring dan mengobservasi kegiatan belajar mahasiswa berdasarkan lembar observasi yang telah dirancang sebelumnya.
3. Langkah ketigadalam melakukan observasi terhadap kegiatan siswa, guru mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik secara individual maupun kelompok dari segi memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pemberian pilihan dan kritik membangun dari guru kepada siswa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh guru pada saat siswa bekerja dalam kelompoknya. Di samping itu, pada saat kegiatan kelompok berlangsung ketika siswa terlibat dalam diskusi dalam kelompoknya masing-masing, guru secara periodik memberikan layanan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal.
4.  Langkah keempatguru memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada saat diskusi kelas ini, guru bertindak sebagai moderator. Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan dan mengoreksi pengertian dan pemahaman siswa terhadap materi atau hasil kerja yang telah ditampilkannya.
D. Contoh materi learning
                              Layanan informasi “Etika bergaul ( menegur orang lain)”
7.      Model Pembelajaran Collaborative Learning (CbL)
a.      Pengertian
Collaborative Learning adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerjasama antar mahasiswa yang didasarkan pada consensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari dosen dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen, semuanya ditentukan melalui consensus bersama antar anggota kelompok.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian collaborative learning adalah Metode pembelajaran yang menitik beratkan pada kerja sama siswa  dengan consensus (kesepakatan) yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok, dimana anggota kelompok ada kesamaan minat (bersifat homogen).
b.      Tujuan
1)      Mengembangkan pribadi peserta didik sesuai dengan karakteristik
2)      Peserta didik bisa berbagi peran sesuai dengan kelebihan karakter masing-masing, sehingga kelompok diharapkan dapat mengoptimalkan kemampuan masing-masing anggota.
3)      Dinamika dalam proses pembelajaran dapat diatur sendiri oleh kelompok subjek didik, ketergantungan pada guru diperkecil dan kemandirian subjek didik lebih besar.
4)      Guru dapat berkonsentrasi pada rancangan struktur tematik pembelajaran (perencanaan) dan fasilitas.
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
Johnsong & holubec (1991), mengidentifikasi 5 prosedur :
1)      Possitive interpendence, tiap peserta kelompok merasa butuh anggota kelompok lain untuk menyelesaikan tugas mereka (berhasil atau gagal bersama) mengembangkan tujuan bersama, berbagi informasi, berbagi tugas (pembuat kesimpulan, pengatur partisipasi, pencatat, pengatur waktu, koordinator/pemimpin, dan lain-lain).
2)      Face to face promotive intertion, tiap anggota merangsang kegiatan belajar anggota lain dengan membantu persoalan yang dihadapi anggota lain, menereangkan, diskusi, berbagai pendapat dan informasi
3)      Individual accountability, tiap anggota kelompok menunjukan kinerja yang menggambarkan tanggung jawabnya secara pribadi bagi kelompok atau bagi dirinya sendiri.
4)      Interpersonal and small group skills, kelompok tidak dapat berfungsi efektif manakala anggotanya tidak dapat memiliki dan menggunakan keterampilan sosialnya dengan baik. Keterampilan sosial ini perlu ditransformasikan menjadi keterampilan akademik.
5)      Group processing, kelompok membutuhkan waktu untuk mendiskusikan bagaimana kelompk dapat mencapai tujuan kelompok dan bagaimana mempertahankan kinerja efektif kelompok melalui interaksi positif di antara kelompok. Persoalan menyagkut kebutuhan kepemimpinan kolektif, dan guru dapat memonitor perkembangan soft skill ini.
Dapat disimpulkan bahwa langkah penggunaan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut :
1.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri
2.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, menganalisis dan menulis sendiri
D. Contoh materi layanan
Layanan informasi mengeai “Persiapan karir  (di kelompokan berdasarkan kesamaan minat akan cita-cita siswa)”
8.      Model Pembelajaran Contextual Instruction (CL)
a.      Pengertian
Contextual Instruction (CI) adalah konsep belajar pada sekolah yang membantu guru mengaitkan isi mata pelajaran dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Tujuan
1)      Untuk memotivasi siswa membuat keterhubungan anatara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengkaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari ( konteks pribadi, sosial, dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secra aktif pemahamannya.
c.       Penggunaan dan Lanngkah-langkah
1)      Membahas konsep teori
2)      Mengakaitnya dengan situasi yang nyata
3)      Melakukan studi lapaangan/ terjun di dunia nyata untuk mempelajari kesesuaian teori.
D. Contoh materi layanan
1.       Memberikan layanan informasi tentang Disiplin sekolah
2.      Memberikan layanan informasi tentang Karir (model)

9.      Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
a.      Pengertian
Project Based Learning adalah model belajar siswa yang sistematis, yang melibatkan siswa dalam belajar melalui proses pencarian/penggalian yang panjang dan terstruktur  terhadap pertanyaan yang otentikdan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati.
b.      Tujuan
1)      Untuk memotivasi siswa agar dapat menstimulasi motivasi, proses, dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
2)      Agar siswa menjadi kreatif berpikir, bisa memecahkan masalah dan dapat berinteraksi mengarahkan untuk penyelesaian masalahnya.
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
Dalam menerapkan project-based learning, guru harus memperhatikan langkah-langkah implementasinya. Menurut I Wayan Santyasa (2006:12), implementasi project-based learning mengikuti lima langkah utama, yaitu sebagai berikut:
1)         Menetapkan tema proyek
Tema proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) memuat gagasan umum dan orisinil, (b) penting dan menarik, (c) mendeskripsikan masalah kompleks, (d) mencerminkan hubungan berbagai gagasan, (e) mengutamakan pemecahan masalah ill defined.
2)         Menetapkan konteks belajar
Konteks belajar hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan masalah dunia nyata, (b) mengutamakan otonomi siswa, (c) melakukan inquiry dalam konteks masyarakat, (d) siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efisien, (e) siswa belajar penuh dengan kontrol diri, (f) mensimulasikan kerja secara profesional.
3)   Merencanakan aktivitas-aktivitas
Pengalaman belajar terkait dengan merencanakan proyek adalah sebagai berikut: (a) membaca, (b) meneliti, (c) observasi, (d) interview, (e) merekam, (f) mengunjungi obyek yang berkaitan dengan proyek, (g) akses internet.
4)     Memeroses aktivitas-aktivitas
Indikator-indikator memeroses aktivitas meliputi antara lain: (a) membuat sketsa, (b) melukiskan analisa, (c) menghitung, (d) men-generate, (e) mengembangkan prototipe.
5.      Penerapan aktivitas-aktivitas untuk menyelesaikan proyek
Langkah-langkah yang dilakukan, adalah: (a) mencoba mengerjakan proyek berdasarkan sketsa, (b) menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan hasil yang diperoleh, (c) mengevaluasi hasil yang telah diperoleh, (d) merevisi hasil yang telah diperoleh, (d) melakukan daur ulang proyek yang lain, dan (e) mengklasifikasi hasil terbaik.
Adria Steinberg (dalam  Patton, 2012:40) telah mengembangkan seperangkat prinsip untuk membuat desain  dalam project-based learning, dikenal dengan istilah The Six As. Prinsip ini sangat berpengaruh dalam menentukan level kualitas desain suatu proyek. Keenam prinsip itu adalah: (1) Authenticity (keautentikan); (2) Academic Rigor(ketaatan terhadap nilai akademik), (3) Applied Learning (belajar pada dunia nyata), (4)Active Exploration (aktif meneliti), (5) Adult Relationship (hubungan dengan ahli), dan (6) Assessment (penilaian).
Langkah-langkah pembelajaran dalam Project Based Leraning sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri dari :

a.      Start With the Essential Question
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relefan untuk para peserta didik.
b. Design a Plan for the Project
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
c. Create a Schedule
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyak, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
d. Monitor the Students and the Progress of the Project
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
e. Assess the Outcome
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
f. Evaluate the Experience
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan.
        D. Contoh materi layanan
1.      Merokok (melaksanakan penelitian tentang rokok : zat-zat yang terkandung di dalam rokok)
2.      Dampak seks bebas (HIV/AIDS)
3.      Karir (mewawancarai berbagai profesi dan pekerjaan)

10.  Model Pembelajaran Problem Based Learning and Iquiry (PBL)
a.      Pengertian
Pembelajaran problem based learning and inquiry adalah metode belajar siswa dengan memanfaatkan masalah dan siswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut.
b.      Tujuan
1)      Agar peserta didik mampu membuat sebuah  keputusan
2)      Agar peserta didik mampu memecahkan permasalahan yang diajukan kepada peserta didik
3)      Agar peserta didik mampu mendesain proses untuk menemukan solusi atas permasalahan yang diajukan.
4)      Agar peserta didik mampu bertanggungjawab untuk mengakses dan mengolola informasi untuk memcahkan permasalahan
5)      Agar peserta didik mampu mewujudkan situasi yang toleran.
c.       Penggunaan dan Langkah-langkah
       Pemberian tugas (kelompok/ individual)
a.       Mengidentifikasi jenis-jenis topik yang diberikan
b.      Mendiskusikan hal-hal yang melatar belakangi topik
c.       Mendiskusikan solusinya/ penyelesaian masalahnya
d.      Mempersentasikan hasil diskusi
D. Contoh materi layanan
1.      Penegakan disiplin sekolah (absen, merokok, tidak memakai atribut sekolah)
2.      Narkoba
3.      Dampak Internet
4.      Dampak pergaulan bebas
5.      Menjadi pribadi yang menarik
Tidak siap menghadapi ujian.

Sumber
Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
C. Ridwan. (2009) . Problem Based Learning.Diakses dari (http://ridwan13.wordpress.com) tanggal 10 Maret 2012 pukul 1.47 WIB.
Dimyati dan Mujiono. (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Harsono. (2004). Pengantar Problem Based Learning. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran UGM.

Johnson, D. W & johnson R.T. 1991. Learning Together and aloone: cooperative, competitive, and individualistic learning (3rd edition), upper saddle river, NJ: Prentice-hall.

Koyan, I Wayan. 2004. Konsep Dasar dan Teknik Evaluasi Hasil Belajar. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.

Komalasari Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Bandung: PT Refika Aditama

Mc. Taggart, Robin and Stephen Kemmis. (1991). Action Research A Short Modern History. Victoria: Deakin University.

Robert. K. Yin. 2006. Studi Kasus; Desain dan Metode. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nana Sudjana. (2010) . Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Roestiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.

Suharsimi Arikunto , Suhardjono & Supardi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Santyasa, I Wayan. 2004. Pengaruh Model dan Seting Pembelajaran terhadap Remidiasi

Zulherman. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarata: Bumi Aksara

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
NO
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
PEMBEDA
URAIAN
1
Small Group Discussion
Pengertian
Metode pembelajaran yang membahas suatu topik yang dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang antara siswa dengan siswa

Tujuan
8.      Menggali ide
9.      Menyimpulkan poin penting
10.  Mengakses banyak skill siswa
11.  Mengkaji kembali topik sebelumnya
12.  Membandingkan teori
13.  Untuk menyelesaikan masalah
14.  Saling membantu anggota kelompok

Penggunaan
4.      Persiapan untuk diskusi
c.       Menyiapkan materi-materi untuk didiskusikan
d.      Materi yang disiapkan bisa berasal dari guru maupun siswa sendiri

5.      Pelaksanaan
d.      Mengatur waktu
e.       Menjelaskan hasil diskusi
f.       Guru mengontrol siswa dalam berdiskusi

6.      Pelaporan hasil
c.       Diskusi bisa dilakukan beberapa kali
d.      Hasil diskusi di catat dan ditunjukan dengan sumber-sumbernya

Contoh materi layanan
4.      Layanan informasi tentang “cara belajar efektif”
5.      Layanan Informasi tentang “kiat sukses dalam bergaul”
6.      Layanan Informasi tentang “kiat sukses dalam belajar”

2

Role-Play/ Simulation
Pengertian
Metode pembelajaran dengan cara bermain peran, dimana peran itu disimulasikan/ di pura-purakan

Tujuan
5.      Untuk menghayati berbagai peran/ perasaan orang
6.      Menambah dan memperkaya sistem pembelajaran tradisional
7.      Memberikan motivasi
8.      Memberikan keterampilan kehidupan nyata

Penggunaan
4.      Persiapan
d.      Memberikan topik kepada siswa
e.       Bisa dibentuk dengan kelompok (small group discussion)
f.       Siswa mencari informasi tentang perannya tersebut dari berbagai sumber

5.      Pelaksanaan
c.       Waktu yang digunakan
d.      Siswa memainkan peran masing-masing yang telah di beri topik

6.      Pelaporan hasil
Siswa melaporkan hasil permainan perannya dengan cara ditulis

Contoh materi layanan
4.      Layanan informasi tentang “pemilihan karir” (dokter, guru, tentara, pilot, dll)
5.      Layanan Informasi informasi “tentang peran keluarga” contohnya bagaimana menjadi ayah, ibu, kakak, adik, anak, dll)
6.      Layanan informasi tentang “penyelamatan diri saat  gempa”

3
Discovery Learning
Pengertian
Metode pembelajaran dengan cara siswa menemukan sendiri konsep atau prinsip.

Tujuan
3.      Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran
4.      Siswa belajar menemukan pola dalam situasi kongkrik maupun abstrak
5.      Siswa bisa menemukan sendiri sumber belajar yang ia perlukan

Penggunaan
5.      Guru memberikan topik
6.      Siswa pengumpulkan data dan eksperimentasi melalui berbagai macam sumber belajar
7.      Siswa mendiskusikannya dikelas maupun dengan kelompok
8.      Guru disini sebagai pengarah, petunjuj, motivator, inovator

Contoh materi layanan
3.      Layanan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja
4.      Layanan informasi tentang penjurusan

4
Case Study
Pengertian
Rangkuman pengalaman pembelajaran yang di tugaskan kepada siswa (studi kasus) dimana siswa di suruh mengamati sesuatu yang telah ditugaskan.

Tujuan
1.      Untuk mengevaluasi diri
2.      Untuk membuka wawasan terhadap pembelajaran dan penanaman konsep bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung
3.      Menemukan kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran berdasarkan pengalaman studi kasus

Penggunaan
4.      Siswa diberikan topik
5.      Siswa disuruh mengamati, menceritakan, menuliskan, serta menganalisa topik yang diberikan
6.      Hasilnya bisa buat dalam bentuk tulisan (laporan)

Contoh materi layanan
4.      Layanan informasi tentang “ cara belajar yang baik” bisa dilihat melalu vidio, anak yang berprestasi”
5.      Layanan Informasi tentang “cara menjadi orang yang sukses” bisa lansung bertanya dan mengamati orang-orang yang sukses di sekeliling siswa
6.      Layanan Informasi tentang “ Bahaya merokok”

5
Self Directed Learning
Pengertian
Metode pembelajaran yang mengajak siswa mengambil inisiatif, mendiagnosis apa yang diperlukan  merumuskan, mengidentifikasi, serta mengevaluasi secara sendiri.

Tujuan
1.      Agar siswa mampu  mengambil tindakan
2.      Agar siswa mampu mengajukan pertanyaan
3.      Agar siswa bisa membuat pilihan
4.      Agar siswa membangun kerjasama
5.      Agar siswa mengikuti rencana dan mengukur kemajuan diri
6.      Agar siswa mandiri menentukan hasil akhir
Penggunaan
5.      Merencanakan topik
6.      Menciptakan lingkungan belajar
7.      Melaksanakan kegiatan pembelajaran dan monitoring
8.      Mengevaluasi hasil belajar siswa

Contoh Materi layanan
1.      Seminar  tentang cara jitu lulus UN
2.      Seminar  tentang cara jitu lulus SNMPTN

6
Cooperative Learning
Pengertian
Model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok, yang kelompoknya dibagi oleh guru dan anggota kelompoknya bersifat heterogen

Tujuan
1.      Meningkatkan hasil belajar siswa
2.      Penerimaan terhadap keragaman
3.      Pengembangan keterampilan-keterampilan sosial

Penggunaan
1.      Merancang rencana program pembelajaran
2.      Mengaplikasikan pembelajaran di kelas
3.      Melakukan observasi terhadap kegiatan siswa
4.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempersentasikan hasil kerjanya.

Contoh  
materi Layanan
Etika bergaul ( menegur orang lain)
7
Collaborative Learning
Pengertian
Metode pembelajaran yang menitik beratkan pada kerja sama siswa  dengan consensus (kesepakatan) yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok, dimana anggota kelompok ada kesamaan minat (bersifat homogen).
Tujuan
1.      Mengembangkan pribadi peserta didik sesuai dengan karakteristik
2.      Peserta didik bisa berbagi peran sesuai dengan kelebihan karakter masing-masing
3.      Dinamika dalam proses pembelajaran dapat diatur sendiri oleh kelompok
4.      Masing-masing siswa bisa mencari sumber belajar dari manapun
Penggunaan
3.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri
4.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, menganalisis dan menulis sendiri
Contoh materi layanan
Persiapan karir  (di kelompokan berdasarkan kesamaan minat akan cita-cita siswa)
8
Contextual Instruction
Pengertian
Metode pembelajaran dengan cara apa yang dibahas dikaitkan dengan diri siswa

Tujuan

Penggunaan
1.      Materi
2.      Model (ditemtukan dan diamati)
3.      Memberikan pertanyaan yang bersifat terbuka kepada siswa
Contoh materi layanan
3.      Disiplin sekolah
4.      Karir (model)
9
Project Based  Learning dan Inquiry
Pengertian
Model belajar siswa yang sistematis, yang melibatkan siswa dalam belajar menemukan sendiri melalui proses pencarian/penggalian yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati.

Tujuan
1.      Untuk memotivasi siswa agar dapat menstimulasi motivasi, proses, dan meningkatkan prestasi belajar siswa
2.      Agar siswa menjadi kreatif berpikir, bisa memecahkan masalah dan dapat berinteraksi mengarahkan untuk penyelesaian masalah

Penggunaan
1.      Meneteapkan proyek
2.      Menetapkan konteks belajar
3.      Merencakan aktivitas-aktivitas
4.      Memproses aktivitas
5.      Penerapan aktivitas

Contoh materi layanan
4.      Merokok (melaksanakan penelitian tentang rokok : zat-zat yang terkandung di dalam rokok)
5.      Dampak seks bebas (HIV/AIDS)
6.      Karir (mewawancarai berbagai profesi dan pekerjaan)

10
Problem based learning
Pengertian
 Suatu metode pembelajaran yang ditandai oleh adanya masalah nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar kritis dan memiliki keterampilan memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan.

Tujuan
1.      Agar peserta didik mampu membuat sebuha keputusan
2.      Agar peserta didik mampu memecahkan permasalahan yang diajukan kepada peserta didik
3.      Agar peserta didik mampu mendesain proses untuk menemukan solusi atas permasalah yang diajukan
4.      Agar peserta didik mampu bertanggung jawab untuk mengakses dan mengelola
5.      Agar peserta didik mampu mewujudkan situasi yang toleran

Penggunaan
1.      Pemberian tugas (kelompok/ individual)
e.       Mengidentifikasi jenis-jenis topik yang diberikan
f.       Mendiskusikan hal-hal yang melatar belakangi topik
g.      Mendiskusikan solusinya/ penyelesaian masalahnya
h.      Mempersentasikan hasil diskusi

Contoh materi layanan
6.      Penegakan disiplin sekolah (absen, merokok, tidak memakai atribut sekolah)
7.      Narkoba
8.      Dampak Internet
9.      Dampak pergaulan bebas
10.  Menjadi pribadi yang menarik
11.  Tidak siap menghadapi ujian






















TUGAS  1
KONSELING FORMAT KLASIKAL
(MODEL-MODEL PEMBELAJARAN)


Dosen Mata Kuliah :
1.    Dr. Riska Ahmad, M. Pd, Kons
2.    Drs. Yusri Rafsyam, M. Pd, Kons





Oleh :
Puji Gusri Handayani, S. Pd





PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK-SM3T)
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar